Pendidikan Sebagai Sarana Utama Memerangi Hoax

Gb.Marimas.com


Dewasa ini berita Hoax telah banyak merugikan banyak pihak, baik secara moral maupun material. Berita hoax selain mampu membohongi banyak orang, juga dapat dengan mudah mengancam ketentraman hidup berbangsa dan bernegara.



Indonesia sebagai Negara yang penuh dengan keragaman , akan sangat dengan mudah dipecah belah jika tidak memiliki cukup bekal untuk mengidentifikasi kebenaran suatu berita.

Gerakan Anti Hoax Sang Pendidik perlu segera digalangkan hal ini dikarenakan guru sebagai seorang tenaga pendidik memiliki andil penting dalam ikut memerangi berita hoax,.  Guru merupakan ujung tombak dalam mempersiapkan bekal untuk para generasi bangsa, satu diantaranya dalam memberikan bekal dan pemahaman-pemahaman yang memadai tentang berita hoax.

Akhir-akhir ini penyebaran berita hoax begitu cepat menyebar seperti kilat, hal ini didukung dengan semakin banyaknya pengguna media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, BBM, Google+, dan berbagai media sosial lainnya.

Banyaknya pengguna media sosial tersebut kini sudah tak mengenal usia lagi, bahkan dikalangan pelajar bukan hanya tingkat SMA dan SMP saja yang memiliki akun media sosial , setingkat SD pun tak sedikit anak yang sudah memilikinya.

Bekal ilmu anak yang kurang memadai akan mempermudah mereka menjadi sasaran empuk bagi para pembuat berita hoax, karena anak-anak pelajar tersebut adalah sarana paling efektif  untuk ikut andil dalam menyebar luaskan berita hoax tersebut.

Atas dasar kepedulian terhadap sesama, agar kekinian, agar terlihat pintar dan berbagai alasan pribadi lainnya telah membuat banyak anak begitu mudah menyebarkan berita hoax.

Tentu saja sebagai seorang guru kita tidak boleh menyalahkan mereka sepenuhnya, hal ini dikarenakan pemahaman mereka yang minimlah akhirnya telah  mudah membuat mereka percaya begitu saja akan setiap kebenaran dari tulisan yang dibacanya.

Ini adalah tugas dan tantangan bagi kita semua para tenaga pendidik untuk memberikan pondasi sekuat-kuatnya pada anak  agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negative, salah satunya adalah berita Hoax tersebut.

Semoga tulisan ini bisa sedikit memberi gambaran akan berbagai hal yang bisa kita lakukan untuk bersama-sama bersatu padu berjuang memerangi hoax.

Apa itu Hoax ?

Anak-anak saya di SDN Karangbokong 03 Larangan Brebes kadang bertanya apa sih pa hoax itu? Semakin seringnya anak mendengar kata tersebut ternyata telah mampu membuat rasa ingin tahu anak semakin tinggi.

Sebagai seorang guru terutama setingkat TK dan SD kedekatan kita pada anak adalah salah satu modal paling penting untuk dapat memahami berbagai karakter dan hal-hal apapun yang sedang dialami anak.

Kedekatan guru yang bisa menjadi teman bermain, pengganti orangtua, bahkan terkadang bisa seperti sosok seorang kakak akan mudah membuat anak terbuka pada kita. Itu merupakan modal dasar bagi guru untuk bisa benar-benar memberikan pembekalan pendidikan terbaik untuk anak.

Terkait pertanyaan anak tentang hoax  penulis terkadang hanya berkata itu adalah berita bohong, atau tulisan yang tidak benar. Bagi anak-anak kelas tinggi jawaban seperti itu tidak memuaskan mereka sehingga harus benar-benar diperjelas lagi.

“Hoax itu tulisan bohong sebagai usaha untuk menipu pembaca agar mempercayai akan apa yang tertulis dalam tulisan bohong tersebut. Si pembuat hoax itu sadar betul kalau yang ditulisnya adalah bohong, dan tujuan penulisannyapun sangat tidak terpuji seperti untuk menghancurkan nama baik seseorang atau lembaga, menghancurkan minat beli masyarakat pada suatu produk dan berbagai tujuan negative lainnya,” begitulah kira-kira penjelasan penulis tentang apa itu hoax pada anak.

Hoax Adalah Racun Penghancur yang Sangat Mematikan

Hoax merupakan tulisan, gambar, video atau media lainnya yang berisi kebohongan yang sangat menghancurkan targetnya. Penulis sendiri pernah mengalami berita Hoax yang tersebar luas di masyarakat terkait suatu objek wisata yang ada di Kabupaten Brebes.

Masyarakat banyak yang mengatakan kalau sepasang kekasih  berlibur ke Objek Wisata Waduk Malahayu Brebes, maka ujung-ujungnya pasti berpisah.

Bagi penulis ini adalah berita yang sangat merugikan bagi objek wisata tersebut, akhirnya selain memberi tahu kalau hal itu adalah bohong  penulispun  sudah beberapa kali pergi ke objek wisata bersama tunangan penulis.

Satu dua kali penulis hanya main-main disekitar waduk, sampai akhirnya yang beberapa kali naik perahu mengitari waduk. Dan saat ini tunangan penulis yang penulis sering ajak ke objek wisata tersebut telah resmi menjadi istri penulis. Inilah bukti bahwa berita negative yang tersebar di masyarakat tersebut adalah suatu kebohongan besar.

Selain hal diatas penulispun sering mendapat berita hoax di media sosial dimana sudah dibagikan beberapa kali oleh berbagai pemilik akun. Tulisan berita hoax yang sangat boombastis, dan profokativ telah begitu mudah mempengaruhi pikiran, dan emosi para pembacanya. Bahkan berita hoax tersebut telah membuat banyak orang bertindak terutama dalam hal ikut menyebarkan berita tersebut.

Sebagai contoh jika kita membaca tulisan suatu produk x mengandung bahan z yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan akan menyebabkan kematian misalnya. Tentu kita sebagai pemakai produk tersebut akan takut dan marah pada produk tersebut karena merasa sangat dirugikan. Atas dasar kepedulian sesama  agar tidak memakan banyak korban akhirnya banyak orang yang membagikan tulisan tersebut untuk  semakin diketahui orang banyak.

Opini yang negative dan fitnah tersebut tentu akan sangat merugikan suatu produk tertentu, hingga akhirnya ia akan merugi bahkan bisa gulung tikar. Hoax menurut penulis adalah salah satu trik kotor paling ampuh untuk menghancurkan pesaing , baik pesaing bisnis, prestasi, dan lainnya.
Oleh karena itu tidak ada tawaran lagi selain kita ikut andil dalam memerangi berita hoax ini.
Berikut contoh berita yang terbukti hoax, dan  telah banyak diketahui banyak orang karena telah menyebar luas di media sosial.


Bukti tersebut telah membuktikan untuk kita tidak langsug percaya akan setiap tulisan heboh yang tersebar di medsos, penulis sendiri jika menemukan hal-hal semacam itu akan melihat media yang memberitakan opini tersebut. Penulis sangat yakin jika itu adalah benar tentu hampir semua media Nasional akan meliputnya, sehingga bukan hanya ada di medsos bahkan di televisipun kita bisa mengetahuinya, terlebih berita tersebut sangat heboh dan berpengaruh besar bagi masyarakat.

Media Nasional yang selalu meliput sesuai fakta dan kesaksian adalah sarana paling ampuh untuk kita bisa membedakan kebenarana suatu berita yang tersebar luas di facebook.

Hal ini dikarenakan semua media pasti ingin sama-sama melindungi warga Negara dari bahaya, jika ada berbagai produk berbahaya yang begitu membahayakan tidak mungkin pemerintahpun diam saja, karena sudah ada bagian-bagiannya dalam berbagai penanganan masalah apapun.

Gerakan Anti Hoax Sang Pendidik Musuh Paling Mematikan Bagi Berita Hoax


Berita hoax begitu cepat menyebar dimedia sosial dikarenakan pemahaman para pengguna media sosial yang kurang akan isi dalam suatu tulisan.

Pemahaman berbagai ilmu pengetahuan harus ditanamkan sejak dini pada siswa di sekolah-sekolah.
Tidak ada tawaran lagi untuk kita senantiasa membiasakan anak untuk gemar membaca. Hal ini dikarenakan dengan membaca maka anak akan memiliki ilmu dan pemahaman yang semakin bertambah setiap waktunya.


Ilmu pengetahuan adalah bekal utama agar manusia tidak mudah terpengaruh hal-hal negative dan tidak mudah diarahkan kearah hal-hal yang salah. Ilmu ibarat sebuah pondasi bagi sebuah rumah, sebagus apapun rumah berdiri jika pondasinya lemah maka cepat atau lambat rumah tersebut pasti roboh dan hancur. Sebaliknya setinggi dan semegah apapun suatu rumah atau bangunan jika pondasinya kuat maka angin dan badai sekalipun takan mampu merobohkannya. Pondasi yang kuatlah yang membuat berbagai gedung pencakar langit tetap bediri kokoh di kota-kota besar.

Pemahaman akan ilmu Agama, Tekhnologi Informasi, bahkan UU Hukum perlu kita bekali pada generasi kita, agar mereka tidak mudah terjerumus ke hal-hal yang salah.

Sebagai seorang guru kita harus sangat serius dalam membekali anak dengan ilmu-ilmu yang banyak. Kedekatan kita pada mereka akan mudah mengarahkan mereka sesuai keinginan kita.

Contoh real ketika penulis mengetahui ada beberapa anak yang kalau sore tidak mengaji di Madrasah, maka dengan mengingatkan mereka untuk mengaji ke Madrasah akhirnya mereka mau berangkat.

Selain itu penulispun sering menyuruh anak untuk ketika ada waktu luang harus di temani buku alias membaca. Setelah diberi berbagai pemahaman tentang pentingnya membaca bahkan setingkat kelas 3 SD pun akhirnya jadi gemar membaca.

Guru adalah orang yang paling berpengaruh bagi kepribadian dan karakter anak, bahkan tak jarang ucapan guru lebih didengar anak dibanding orang tuanya sendiri, oleh karena itu setiap guru hendaknya mampu memanfaatkan hal ini dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan anak di segala bidang.

Bagi guru SMP dan SMA terlebih yang mengajar di Perguruan Tinggi, murid-murid kita akan menjadi sarana paling efektif untuk ikut berperan dalam memerangi hoax dan memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait hoax.

Pemahamahan mereka akan berbagai ilmu pengetahuan yang didapat di bangku sekolah atau melalui berbagai buku adalah bekal paling kuat untuk mereka dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait hoax. Bahkan lebih dari itu para siswa yang hampir mayoritas adalah pengguna media sosial harus sejak dini diberikan pemahaman terkait UU ITE , agar mereka punya pegangan dalam berjuang dan bertindak, sehingga tidak merugikan orang lain terlebih dirinya sendiri.

Kesimpulan

Media sosial adalah sarana utama penyebaran berita hoax, banyaknyaa pengguna media sosial dan kurang memadainya pemahaman para pengguna media sosial tentang berita hoax, menyebabkan berita hoax begitu cepat menyebar bagaikan kilat.

Untuk memerangi hoax guru dan dunia pendidikan adalah sarana paling kuat yang mampu mewujudkan Indonesia bebas berita hoax.

Dengan pemahaman yang memadai dari guru, ditambah siswa rajin mencari ilmu dengan membaca maka penyebaran berita hoax akan mudah diminimalisir.
Masyarakat sangat membutuhkan para generasi yang mampu memberikan mereka bekal untuk dapat membedakan benar atau bohongnya suatu berita, dan pendidikan adalah tempat untuk mencetak generasi tersebut sebanyak-banyaknya.


Previous
Next Post »
Thanks for your comment